Tim www.hancapikaina.blogspot.co.id - Banjarmasin- Sudah banyak buktinya, kalau aliran radikal yang ngaku "Paling Islam" selalu menyusup diberbagai sendi kehidupan di Indonesia hingga dunia, khusus di Indonesia mereka bisa menyusup di NU, di Muhammadiyah, di MUI, di berbagai Partai hingga diberbagai suku. Tetapi mudah saja bagi kita untuk mengetahui mereka, karena mereka selalu menebarkan Kebencian kepada sesama ummat manusia dan ummat islam dan yang paling pasti mereka adalah pendukung setia aliran wahabi salafi takfiri yang kini dianut pemerintah Kerajaan arab saudi, yang menganggap aliran dan golongan mereka saja yang BENAR sedangkan yang lain adalah KAFIR...!!! Agar mudah memahami apa yang menjadi opini tim kami, dulu Anda para pembaca pasti ingat, ketika calon Kepala Negara Bapak Jokowidodo masih belum bersanding dengan JK (Jusuf Kalla), JK menganggap kemampuan Pak Jokowi hanya sekelas walikota Solo dan dianggap kurang mampu untuk memimpin NKRI, akan tetapi ketika beliau (Pak JK) dipinang pak Jokowi menjadi wapres dan memahami apa yang menjadi gagasan pak Jokowi, pak JK pun menganggap kinerja pa Jokowi di DKI jakarta sudah cukup mumpuni untuk bisa memimpin NKRI. Artinya wahai para pembaca ketika seseorang masih hidup, tentu situasi dan kondisi akan mempengaruhi seseorang untuk memberikan komentar. Begitu juga Panutan ulama kami yang terkenal yaitu Guru Ijai yang sering merujuk buku Syekh Muhammad Arsyad al Banjari , yaitu Kitab Sabilal Mukhtadin, para wahabi salafi takfiri sering membicarakan tentang "Kesesatan Islam Syi'ah" dengan membawa-bawa Kitab Sabilal Mukhtadin, akan tetapi kita tahu bersama Islam Syi'ah sama seperti Islam Sunni juga banyak memiliki berbagai aliran, ada aliran radikal dan ada aliran yang toleran. Tentu kalau saja beliau berdua masih hidup, tentu kita akan bisa bertanya , Islam Syi'ah yang mana yang sesat??? yang Radikal atau yang Toleran....!!! Dan kami yakin seperti pak JK tadi ketika sudah memahami atau bahkan bertemu para ulama Islam Syi'ah tentu akan terjadi pembicaraan yang santun sesuai Islam Nusantara yang Toleran. Singkat kalimat, kami ingin mengatakan kepada warga banua banjar, jangan sampai kita tersusupi oleh mereka yang beraliran radikal untuk menebarkan kebencian kepada sesama ummat manusia dan ummat islam, caranya dengan lebih transparan dalam laporan keuangan dalam peringatan Haul, karena siapa tau ada aliran dana wahabi salafi takfiri yang "Terkesan" membantu, namun sebenarnya hanya trik jitu untuk membenturkan Islam Sunni dan Islam Syi'ah. Intinya kita Negara Republik Indonesia mayoritas penduduk dan pemerintahnya menganut Islam Sunni Syafe'i ala Indonesia yang toleran, begitu juga Republik Islam Iran mayoritas penduduk dan pemerintahnya menganut Islam Syi'ah 12 Imam / Mazhab Jakfari yang toleran, sedangkan Kerajaan Arab Saudi mayoritas pemerintahannya menganut Wahabi salafi, sedangkan masyarakatnya ada yang menganut Islam Sunni dan Islam Syi'ah. Semoga kita tidak akan pernah tersusupi oleh orang-orang yang "Ngaku-ngaku" :
Ngaku NU, tapi menyebarkan ujaran kebencian kepada sesama ummat manusia dan ummat islam , maka dia Bukan NU...!!!
Ngaku Muhammadiyah, tapi menyebarkan ujaran kebencian kepada sesama ummat manusia dan ummat islam , maka dia Bukan Muhammadiyah...!!!
Ngaku Habib, tapi menyebarkan ujaran kebencian kepada sesama ummat manusia dan ummat islam , maka dia Bukan Habib...!!!
Ngaku MUI / Ulama, tapi menyebarkan ujaran kebencian kepada sesama ummat manusia dan ummat islam , maka dia Bukan MUI / Ulama...!!!
Kami warga Banua Banjar dan warga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) Cinta Damai dan Anti Kaum Radikal yang berupaya menghancurkan Ke Bhineka TUnggal Ikaan kita.. Waja Sampai Kaputing... Dalas Hangit... NKRI Harga Mati...!!!! (Selasa/19/04/2016/Hancapi/Bjm)
Banjarmasin Post/Rahmadhani
Jemaah
berbondong ke lokasi Haul ke-11 Guru Sekumpul, di Jalan Sekumpul,
Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu
(10/4/2016).

Berita Foto Lautan ManHadiri Haul ke-11 Guru Sekumpul
Minggu, 10 April 2016 15:55 WIB
TRIBUNNEWS.COM, MARTAPURA - Lautan manusia mulai memadati Jalan Sekumpul, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (10/4/2016).
Ya, mereka datang dari berbagai daerah untuk menghadiri Haul ke-11 Muhammad Zaini Abdul Ghani. Ulama karismatik asal Kalimantan Selatan itu populer disapa Guru Sekumpul, Guru Ijai, Guru Ijai Sekumpul, Tuan Guru dan Abah Guru.
Padatanya jemaah bahkan sudah mulai terlihat di pintu gerbang masuk Jalan Sekumpul, tepatnya di depan Masjid Pascasila di pinggir Jalan A Yani Kilometer 38.
Meski Acara haul baru dimulai setelah Magrib atau sekitar pukul 18.00 Wita, namun sejak siang ribuan orang sudah datang di lokasi haul. Diperkirakan setengah juta orang datang di Haul Guru Sekumpul.
Di tiap-tiap gang di Jalan Sekumpul, warga secara sukarela menyediakan makanan dan minuman gratis bagi para jemaah yang datang dari jauh.
Nasi samin dengan lauk kari daging sudah menjadi makanan khas sejak pengajian Abah Guru Sekumpul masih hidup.
Tak hanya di Jalan Sekumpul, di tepi-tepi jalan sekitar Kota
Martapura, sejumlah warga juga mendirikan warung gratis bagi para jemaah
haul.
Halaman atau emperan rumah toko, halaman toko sampai halaman rumah warga di sepanjang sekitar satu kilometer Jalan Sekumpul, semua dimanfaatkan untuk para jemaaah.
Ya, hampir tak ada celah yang tak dimanfaatkan untuk menyambut kedatangan ratusan ribu jemaah yang menghadiri haul Guru Sekumpul.
Saat azan salat Asar berkumandang, jemaah yang menunggu langsung melaksanakan salat berjamaah di emperan toko dan halaman rumah warga.
Mainsource : http://www.tribunnews.com/regional/2016/04/10/berita-foto-lautan-manusia-hadiri-haul-ke-11-guru-sekumpul?page=2
Halaman atau emperan rumah toko, halaman toko sampai halaman rumah warga di sepanjang sekitar satu kilometer Jalan Sekumpul, semua dimanfaatkan untuk para jemaaah.
Ya, hampir tak ada celah yang tak dimanfaatkan untuk menyambut kedatangan ratusan ribu jemaah yang menghadiri haul Guru Sekumpul.
Saat azan salat Asar berkumandang, jemaah yang menunggu langsung melaksanakan salat berjamaah di emperan toko dan halaman rumah warga.

Banjarmasin Post/Rahmadhani
Jemaah
melaksanakan salat Asar di pinggir jalan tak jauh dari lokasi Haul
ke-11 Guru Sekumpul di Jalan Sekumpul, Kecamatan Martapura, Kabupaten
Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (10/4/2016).

Banjarmasin Post/Rahmadhani
Jemaah
berbondong ke lokasi Haul ke-11 Guru Sekumpul, di Jalan Sekumpul,
Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu
(10/4/2016).

Banjarmasin Post/Rahmadhani
Jemaah
berbondong ke lokasi Haul ke-11 Guru Sekumpul, di Jalan Sekumpul,
Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu
(10/4/2016).

Banjarmasin Post/Rahmadhani
Jemaah
melaksanakan salat Asar di pinggir jalan tak jauh dari lokasi Haul
ke-11 Guru Sekumpul di Jalan Sekumpul, Kecamatan Martapura, Kabupaten
Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (10/4/2016).

Banjarmasin Post/Rahmadhani
Jemaah
berbondong ke lokasi Haul ke-11 Guru Sekumpul, di Jalan Sekumpul,
Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu
(10/4/2016).

Banjarmasin Post/Rahmadhani
Jemaah
berbondong ke lokasi Haul ke-11 Guru Sekumpul, di Jalan Sekumpul,
Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu
(10/4/2016).

Banjarmasin Post/Rahmadhani
Jemaah
berbondong ke lokasi Haul ke-11 Guru Sekumpul, di Jalan Sekumpul,
Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu
(10/4/2016).
Mainsource : http://www.tribunnews.com/regional/2016/04/10/berita-foto-lautan-manusia-hadiri-haul-ke-11-guru-sekumpul?page=2
Tuan Guru Ijai Sang Teladan dari Tanah Kalimantan
Ahad, 06 Maret 2016, 20:36 WIB
Ia mendapat anugerah yang luar biasa dari Sang Khalik berupa kecerdasan otak.
Bagi masyarakat Kalimantan, terutama Martapura dan Banjarmasin, nama Tuan Guru Ijai, tidak lagi asing, bahkan melegenda dan melekat dalam ingatan mereka.
Apalagi, sejumlah buah pemikirannya terdokumentasikan dengan apik dan bertahan hingga detik ini.
Di antaranya Risalah Mubarakah, Ma naqib asy-Syekh as-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim al-Qadiri al-Hasani as-Samman al-Madani, ar-Ri sa latun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah, dan Nubdzatun fi Manaqib al-Imam al-Masyhur bi al-Ustadz al-A'zham Muhammad bin Ali Ba'alawy.
Tak hanya dikenal mahir mengarang kitab-kitab berbahasa Arab, sosok kelahiran Martapura Timur, 11 Februari 1942, itu adalah guru sekaligus teladan umat sepanjang masa.
Pemilik nama lengkap KH Muhammad Zaini Abdul Ghani itu terkenal sebagai sosok karismatik yang tidak hanya unggul dalam bidang agama, tetapi juga peduli terhadap sosial.
Tuan Guru Ijai, begitu akrab disapa, selalu memberikan nasihat- nasihat mulia kepada para murid di majelisnya. Petuah yang terkenal di ka langan muridnya, antara lain, penting nya berbaik sangka terhadap sesama Muslim, murah harta, manis muka, tidak menyakiti orang lain, dan mengampuni kesalahan mereka. Tentu, kesemua nasihatnya itu tak terlepas dari tuntunan-tuntan ajaran agama yang luhur.
Kisah tentang pertobatan seorang perampok tersohor seantero Kalimantan di hadapan Guru Ijai, menguatkan tentang ketajaman mata hatinya. Sang perampok mengakui dan sadar atas kesalahannya di depan Guru Ijai dan akhirnya meminta untuk dibimbing ke jalan yang lurus.
Keluarga Putra pertama dari pasangan Abdul Ghani bin H Abdul Manaf bin Muhammad Seman dengan Hj Masliah binti H Mulya bin Muhyiddin ini lahir dari keluarga yang menjunjung tinggi ajaran agama. Garis keturunan nasab Guru Sekumpul, begitu akrab disapa, sangat terhormat dan terjaga. Ia adalah keturunan kedelapan tokoh besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al- Banjari.
Qusyairi, demikian sapaan kecil sang yokoh, mendapat didikan langsung dari kedua orang tuanya. Didikan inilah yang membentuk karakter Qusyairi kecil sebagai pribadi yang memiliki sifat penyabar, ridha, dan penuh kasih sayang. Hidup dalam kesederhanaan justru menempa dirinya kuat menghadapi berbagai cobaan, termasuk agar ia bersikap qanaah. Menghindari keluh kesah yang tak berujung.
Qusyairi kecil terbiasa untuk hidup seadanya, bahkan kekurangan.
Sebuah kisah diriwayatkan bahwa sewaktu kecil ia terbiasa makan satu nasi bungkus dengan lauk satu biji telur yang dibagi untuk empat, yaitu ayah, ibu, ia sendiri, dan adiknya, Hj Rahmah.
Meski kehidupan ekonomi orang tua sulit, tidak membuatnya patah arang dalam memberikan pendidikan agama yang berkualitas. Untuk itu, ayah dari Tuan Guru Ijai tidak membiarkan anaknya jauh-jauh dari pantauannya.
Abdul Ghani bin Abdul Manaf ayah Yuan Guru Ijai selalu menanamkan kedisiplinan dalam pendidikan tauhid dan akhlak serta mewajibkan hafal Alquran dengan tafsirnya sebelum menimba ilmu di luar.
Selain kedua orang tuanya, sosok nenek, Salbiyah, berkonstribusi pula dalam proses pendidikan Guru Ijai. Asupan tauhid, akhlak, dan kedisiplinan mereka berikan kepadanya serta ilmu agama lainnya, seperti membaca Alqur an.
Cerdas Qusyairi kecil mendapat anugerah yang luar biasa dari Sang Khalik berupa kecerdasan otak. Ia mampu menghafal Alquran pada usia tujuh tahun, ketika ia mulai masuk ke pendidikan madrasah di Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura, tepatnya pada 1949.
Cerita tentang daya ingatannya yang kuat itu pun tersohor ketika ia berhasil menghafal kitab tafsir Jalalain saat berusia sembilan tahun. Pada 1955 ketika berusia 13 tahun, ia melanjutkan ke jenjang menengah pertama di lembaga yang yang sama.
Ia mulai menimba ilmu dari sejumlah guru terkemuka. Di antaranya, Syekh al-Fadhil Sya'rani Arif, al-Fadhil Salim Ma'ruf, dan Syekh Salman Jalil, pakar ilmu falak yang unggul di masa itu.
Ia juga pernah berguru ke musnid ad- dunya, Syekh Yasin bin Isa Padangi.
Sosok yang berperan membentuk kerangka keilmuan sang tokoh adalah Syekh Seman Mulya yang tak lain adalah pamannya sendiri. Guru Semanlah yang berjasa mengarahkan Guru Ijai untuk menimba ilmu ke para pakarnya secara langsung.
Guru Seman bahkan mengantar sendiri keponakannya itu ke ulama spesialis ilmu tertentu. Hal ini pernah dilakukan saat Guru Ijai belajar ke Syekh Anang Sya'rani yang mumpuni di bidang tafsir dan hadis.
Di bidang tasawuf, ada dua nama ulama yang menjadi `kiblat' berguru, yaitu Syekh Syarwani Abdan Bangil dan Sayid Muhammad Amin Kutbi.
Proses transfer ilmu di ranah olah spiritual itu berjalan mulus. Ini tak terlepas dari modal kejernihan hati yang dimiliki oleh sang ulama.
Pada usia 10 tahun bahkan ia telah memiliki keutamaan berupa penglihatan tanpa batas kasyaf hissi. Atas seizin Allah, ia mampu melihat dan mendengar di dalam atau di luar dinding.
Pada 10 Agustus 2005, sang tokoh meninggal dunia di usia 63 tahun. Ia meninggalkan warisan berharga dalam dunia olah spiritual. c62, ed: Nashih Nashrullah
Mainsource : http://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/16/03/06/o3mds51-tuan-guru-ijai-sang-teladan-dari-tanah-kalimantan
BERITA duka itu akhirnya datang juga.
Rabu, 10 Agustus 2005, subuh dinihari selepas pukul 05.00 Wita, Al
‘Aalimul ‘Allaamah Al ’Aarif Billaah Maulana Syekh KH Muhammad Zaini
Abdul Ghani ( Abah Guru Sekumpul Martapura Kalimantan Selatan ) berpulang
ke rahmatullah. Ribuan ummat segera berdatangan memenuhi sekitar rumah
duka di Kompleks Ar Raudhah Sekumpul Martapura. Mushalla dan kawasan
Kompleks tak sanggup menampung membludaknya warga masyarakat yang
mencintai Belaiau. Semuanya berduka.Kesedihan menggelayut dalam
wajah-wajah mereka. Deraian air mata tidak tertahankan.

Beberapa jam sebelum wafat,
warga Sekumpul dan sekitarnya sempat membesuk Guru lewat pintu belakang
kediaman. Antrean panjang ini ditutup menjelang tengah malam, dan
warga yang tidak bisa bertakziah dimintakan mendoakan sang guru di
tempat masing-masing. Kondisi kesehatan Guru berada pada titik kritis.
Didampingi seluruh keluarga dekat, termasuk istri, Hj. Juwairiah, Hj.
Laila dan Hj. Siti Noor Jannah, serta putra, Muhammad Amin Badali dan
Ahmad Hafi Badali, Wali Allah itu menghadap Sang Khalik. Menjelang pukul
07.00 Wita, di ruang tengah rumah, dimulai shalat jenazah yang diimami
secara bergantian oleh sejumlah ulama.
Lihat Juga : Kumpulan Foto KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani ( Abah Guru Sekumpul ) & Keluarga
Sesekali kerabat dekat Guru memberikan
ciuman terakhir kepada sang ulama. Pukul 12.30, jenazah Guru Sekumpul
dihantar ke pemakaman yang berada di depan Mushalla ArRaudhah atau di
bagian depan samping kiri kediaman almarhum. Kala keranda dikeluarkan
dari kamar, gemuruh tahlil dan tahmid mengumandang, disertai dengan
suara isak tangis di sana-sini. Lantunan tahlil itu terasa pilu,
menyayat hati dan membuat bulu kuduk berdiri. Suara itu terus bergema
terlebih saat keranda jenazah melewati pintu utama kediaman menuju
mushalla.
Ribuan jamaah berebut membawa keranda
hingga selendang penutup keranda nyaris lepas. Di mushalla, shalat
jenazah berpuluh-puluh kali digelar. Menjelang Ashar keranda dibawa ke
pemakaman yang jaraknya cuma beberapa meter dari mihrab. Tepat azan
Ashar dan diiringi lantunan ayat Al Qur’an, jasad sang ulama diturunkan
ke liang
lahad. Sesuai wasiat Guru, yang memimpin pembacaan talqin adalah (alm) Al Alimul Fadhil KH Abdus Syukur.
lahad. Sesuai wasiat Guru, yang memimpin pembacaan talqin adalah (alm) Al Alimul Fadhil KH Abdus Syukur.
Hari-hari ini, kita kembali terkenang
dengan ceramah sang ulama dalam beberapa kali pengajian. Banyak
di antaranya yang bertutur tentang kematian, wasiat kehidupan, walau
diungkapkan Guru Sekumpul secara
bercanda.“Kalau aku kena meninggal dunia, kantor dan bank pasti tutup. Sekolahdan madrasah juga umpat libur….” Kata Guru. Di saat banyak yang bingung, sang ulama menyambung kalimat itu hingga membuat jamaah tertawa, “Asal aku meninggalnya hari Minggu…”Canda Guru itu setidaknya terbukti.
bercanda.“Kalau aku kena meninggal dunia, kantor dan bank pasti tutup. Sekolahdan madrasah juga umpat libur….” Kata Guru. Di saat banyak yang bingung, sang ulama menyambung kalimat itu hingga membuat jamaah tertawa, “Asal aku meninggalnya hari Minggu…”Canda Guru itu setidaknya terbukti.
Meski wafat bukan hari Ahad, suasana
di Martapura dan sekitarnya mengamini apa yang dulu diungkapkan Guru.
Sekolah banyak yang diliburkan, kantor dan instansi pemerintah relatif
tidak berfungsi walau tampak buka, dan toko-toko di Pasar Martapura
seperti tidak berpenghuni. Semuanya larut dalam kedukaan. Ratusan ribu
jamaah yang menghadiri pemakaman menciptakan rekor tersendiri dalam
sejarah di Kalsel.
Dari mantan Wapres Hamzah Haz,
Gubernur, anggota DPR, hingga rakyat dan ummat datang melayat.
Jalan-jalan macet dan aktivitas warga terhenti. Semuanya ingin
memberikan penghormatan terakhir. Imam shalat pun tak mampu menahan
deraian airmata kala melafalkan doa. Isak tangis tiada terbendung.
Media massa daerah hingga nasional
memberitakan kabar duka ini, termasuk koran besar seperti Kompas dan
Jawa Pos. Bahkan, Rabu dinihari itu juga, Banjarmasin Post mencetak
ulang halaman depan koran yang berisi berita wafatnya Guru Sekumpul.
Sesungguhnya akhir Juli hingga
awal Agustus 2005, kesehatan Guru Sekumpul menjadi perbincangan
masyarakat Kalsel. Hampir setiap hari sejumlah media cetak lokal
memberitakan kondisi sang ulama yang setiap dua kali sepekan menjalani
cuci darah. Sejak awal-awal 2005, pengajian juga libur panjang. Puncak
semua itu, Jum’at, 29 Juli 2005, diantar (Gubernur) Kalsel H.
RudyAriffin, Guru Sekumpul dibawa ke Rumah Sakit Mount Elizabeth
Singapura.
Ditangani oleh Dr Gordon Ku, spesialis
penyakit dalam, kondisi kesehatan sang ulama terus membaik, namun harus
terus menjalani perawatan. Selagi masih di luar negeri, masyarakat
Kalsel heboh oleh beredarnya kabar wafatnya Guru. Sejumlah media radio
malah sempat memberitakannya. Kabar itu sendiri dibantah oleh orang
dekat Guru, termasuk Rudy Ariffin yang terus memantau perkembangan
kesehatan Guru.
Kepada Rudy, Guru mengaku ingin sekali
cepat pulang ke Martapura. Apalagi, Rudy Ariffin setelah itu lebih dulu
pulang ke Kalsel untuk dilantik sebagai Gubernur. “Bila ikam bulik, aku
umpat bulik jua Di ai”, kata Guru kepada Rudy.
Sang ulama memang sangat dekat dengan
Rudy hingga seakan merasa sendirian disana tanpa Rudy. Atas advis tim
dokter di RS, Guru diminta tetap dirawat di lantai 3 ruang khusus
Critical Unit. Setelah lebih sebelas hari menjalani perawatan, Guru pun
diperbolehkan pulang.
Selasa 9 Agustus, pukul 20.30, pesawat carter F-28 yang membawa sang
Aulia mendarat di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Tepat pukul21:15,
iring-iringan mobil yang membawa Guru tiba di Kompleks Sekumpul. Mobil
DA 9596 ZG yang membawa Guru langsung masuk kedalam garasi, di bagian
belakang kediaman.Guru kembali berjumpa dengan keluarga dan kota
kelahiran yang sangat dicintai dan dirindukannya. Namun, ternyata Allah
SWT lebih mencintai dan merindukan sang ulama. Hanya dalam hitungan jam
berada di tengah keluarga, Guru Sekumpul dipanggil
untukselama-lamanya.Innaa lillaahi wainnaa ilaihi rooji’uun
Kutipan dari buku “Bertamu Ke Sekumpul”
Edisi : Cetakan Ke-4
Sumber : http://www.alisadikinchalidy.info/2012/08/obituary-ayahanda-guru-sekumpul_6246.html
Biografi Terlengkap Guru Sekumpul (KH. Zaini Abdul Ghani)
www.majeliswalisongo.com - Biografi KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani Atau Guru Ijai Sang Mursyid Thariqah Sammaniyah - Guru Zaini Ghani Martapura - Siapakah
yang tidak tahu dengan sosok KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau lebih
dikenal dengan Guru Ijai ? Setiap muslim nusantara khususnya muslim di
pulau Kalimantan Selatan, terlebih di Martapura, pasti tahu akan sosok
ulama besar Indonesia ini. Kebesaran dan kemuliaan nama beliau
senantiasa mengharum hingga detik ini walaupun beliau telah meninggal
pada tahun 2005 yang lalu. Lalu bagaimanakah biografi ulama besar satu
ini ? Berikut ini admin majeliswalisongo akan membagikan sekelumit
mengenai manaqib atau biografi beliau yang sangat agung dan penuh dengan
hikmah kebaikan.
KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau lebih populer dipanggil dengan nama
Guru Ijai merupakan seorang ulama besar di Indonesia yang lahir pada
tanggal 11 Februari 1942 di Tunggul Irang, Martapura dan meninggal juga
di Martapura pada tanggal 10 Agustus tahun 2005. Ayah beliau bernama
Syaikh Abdul Ghani sedangkan ibu beliau bernama Hajah Masliah binti
Syaikh Mulia bin Syaih Muhyiddin
Apabila diruntut silsilah dari Guru Ijai ini, maka beliau masih
merupakan keturunan Ulama Besar Nusantara yaitu Syaikh Muhammad Arsyad
Al-Banjari. Silsilah beliau adalah sebagai berikut: KH. Muhammad Zaini
Abdul Ghani (Guru Ijai) bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad
Seman bin Muhammad Sa'ad bin Abdullah bin Al-Mufti Muhammad Khalid bin
Al-Aalim Al-Allamah Al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad
Al-Banjari.
Sebagai ulama besar yang pernah hidup di nusantara ini, beliau dikenal baik dengan berbagai macam nama besar, yaitu:
- Kyai Haji Muhammad Zaini Abdul Ghani
- Guru Ijai atau Guru Izai
- Guru Ijai Sekumpul
- Tuan Guru
- Abah Guru
- Qusyairi (nama kecil beliau).
- Asy-Syaikh Al-Alim Al-Allamah Muhammad Zaini bin Al-Arif billah Abdul Ghani
- Syaikhul Alim Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Bahr Al-Ulum Al-Wali Al-Quthb Asy-Syaikh Al-Mukarram Maulana Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari
Sedari kecil, Guru Ijai sudah terbiasa dengan pendidikan agama karena
memang beliau hidup dan tumbuh besar di dalam lingkungan agamis yang
ketat dan teguh dalam menjalankan perintah agama. Karenanya tak heran
apabil sejak kecil beliau telah banyak makan garam seputar ilmu-ilmu
agama seperti ilmu ketauhidan (ushuluddin), akhlak, al-Quran dan hadist,
dan lain sebagainya. Adapun guru pertama beliau tak lain adalah ayah
beliau sendiri, Syaikh Abdul Ghani. Selain itu, beliau juga mendapatkan
gemblengan keras agar selalu mencintai dan menghormati para ulama
khususnya dzurriyahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
![]() |
| Guru Sekumpul Atau Tuan Guru Ijai |
Keulamaan dan kewalian beliau telah terlihat dan telah nampak
tanda-tandanya sejak beliau kecil. hal ini dibuktikan bahwa menurut
riwayat, Guru Ijai ketika masih kecil sering menunggu kedatangan
Al-Allim Al-Fadhil Syaikh Zainal Ilmi yang ingin sekali menemui beliau
semata-mata hanya untuk bersalaman mencium tangan beliau yang penuh
berkah.
Tatkala umur Guru Ijai menginjak usia tujuh tahun, beliau mengikuti
pendidikan formal pertamanya di madrasah ibtidaiyah Darussalam,
Martapura. Kemudian pada tahun 1955 (usia 13 tahun) beliau melanjutkan
ke jenjang MTs, yaitu di Madrasah Tsanawiyah Darussalam, Martapura.
Selain itu beliau juga mengenyam pendidikan agama non formal, khususnya
kepada Syaikh Seman Mulia yang merupakan pamannya sendiri. Syaikh Saman
terhitung menjadi guru beliau yang sangat berperan penting dalam
mendidik beliau menjadi sosok ulama besar.
Pendidikan yang diterapkan Syaikh Saman terhitung unik. Beliau hampir
tidak mengajarkan ilmu-ilmu agama secara langsung kepada Guru Ijai,
kecuali ketika berada di sekolahan. Syaikh Seman mendidik beliau dengan
membangun kecintaan kepada para ulama dengan mengajak Guru Ijai kecil
bersilaturahmi mendatangi para ulama besar di masanya untuk belajar
mengaji kepada mereka, baik itu para ulama di Kalimantan Selatan maupun
di Jawa. Salah satunya, Guru Ijai diajak atau diantara oleh Guru Seman
kepada Al-Alim Al Allamah Syaikh Anang Sya'rani yang dikenal masyarakat
luas sebagai seorang muhaddits dan seorang yang ahli dalam ilmu tafsir.
Walau Syaikh Seman Mulia seringkali tidak langsung mengajarkan ilmu
keislaman kepada Guru Ijai, akan tetapi beliau menjadi seorang pendidik
yang sangat disiplin. Ada diceritakan bahwa suatu ketika Guru Ijai kecil
ingin sekali bermain ke pasar seperti kebanyakan anak-anak seusianya.
namun saat akan memasuki pasar tiba-tiba pamannya, Syaikh Seman, berada
di hadapannya dan memerintahkannya untuk segera pulang. Anehnya,
orang-orang yang berada di pasar tidak ada seorang pun yang melihat
Syaikh Seman. Akhirnya Guru Ijai pulang kembali ke rumah.
![]() |
| Guru Sekumpul: Wali Besar Di Zamannya |
Sosok Guru Ijai merupakan sosok yang bisa dikatakan sangat menonjol dan
sangat mumpuni di bandingkan dengan anak kebanyakan di usianya.
Bagaimana tidak, beliau di umur yang masih sangat belia, yaitu tujuh
tahun, sudah hafal al-Quran dan pada umur sembilan tahun sudah hafal
tafsir Jalalain yang sangat terkenal di dunia islam itu. Kemudian pada
usia kurang dari sepuluh tahun, beliau sudah mendapatkan anugerah dari
Allah mendapatkan khususiyah berupa Kasyaf Hissi atau yang seringkali
diartikan sebagai anugerah berupa kemampuan melihat dan mendengar apa
yang ada di dalam atau yang terdinding.
Karena sudah mendapatkan pendidikan agama dan kedisplinan tingkat
tinggi, pada akhirnya Guru Ijai menjadi ulama besar di masanya dan
menjadi rujukan dan tempat bertanya bagi sebagian besar muslim di
Indonesia khususnya di Martapura dan sekitarnya.
Beliau tidak pernah jemu memberikan nasihat yang sangat berharga yang
patut kita renungi dan kita amalkan ajaran-ajaran beliau. Diantara
sekian banyak ajaran beliau yaitu tentang karamah. Menurut beliau, kita
jangan mudah tertipu dengan orang-orang yang mengaku memiliki karamah.
Sebab menurut beliau, karamah itu bukan ilmu yang dapat dipelajari. Akan
tetapi karamah tiada lain merupakan anugerah dari Allah ta'ala yang
dikhususkan kepada hamba-hambaNya yang bertakwa kepada Allah. Karena
bukanlah suatu keahlian atau skill, maka kita jangan sekali-kali
beribadah kepada Allah hanya dengan niat menginginkan hal itu semua.
Tuan Guru Ijai juga pernah memberikan nasihat penting lainya,
diantaranya yakni sebagai berikut, bahwa kita diperintahkan untuk
menghormati para ulama khususnya kedua orang tua kita. Senantiasa
berbaik sangka atau husnudzan kepada setiap muslim. Senantiasa dermawan
dan manis muka. Senantiasa menjaga diri dari menyakiti orang lain.
Senantiasa memberikan maaf apabila ada orang lain yang berbuat salah
kepada kita. Senantiasa menjaga diri agar jangan bermusuhan dengan
seorangpun. Senantiasa menjaga diri dari sifat tamak, rakus, serakah dan
sebangsanya. Senantiasa berpegang teguh kepada Allah ta'ala, agar
hajat kita terkabul. Beliau juga menasihati bahwa kita harus yakin
keselamatan itu pada kebenaran.
![]() |
| Guru Ijai Bersama Habib Anis Solo |
Dalam perjalan dakwahnya, Syaikh Zaini memusatkan dakwahnya di majelis
pengajian Mushala Ar-Raudhah. Di majelis ini ribuan bahkan puluhan ribu
santri dan jamaah datang dan istiqamah mengaji kepada beliau. Banyak
sekali yang datang mulai dari daerah Martapura Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Pulau Jawa, hingga dari mancanegara
seperti dari Malaysia, Brunei, Singapura, dan lain sebagainya. Selain
itu pengajian beliau juga banyak dipenuhi oleh para habaib yaitu
dzuriyat atau keturunannya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Dalam perjalanan dakwahnya di Mushala Ar-Raudhah, Guru Ijai mengadakan
pengajaran khusus untuk mengkaji kitab Ihya' Ulumiddin, pembacan burdah,
pembacaan maulid azab, pembacaan dalailul khairat, Ratibul Hadad,
istighfar berjamaah, dan lain sebagainya.
Guru Ijai juga dikenal sebagai seorang mursyid tarekat Sammaniyah yang
memiliki ribuan bahkan puluhan ribu murid. Beliau juga seorang penulis
yang produktif. Diantara kitab karya tulis beliau adalah:
- Nubdzatun Fi Manaqibil Imamil Masyhur bil ustadzil A'dzam Muhammad bin Ali Ba'alawi
- Ar-Risalah An-Nuraniyah Fi Syarhit Tawasulatis Samaniyah
- Manaqib Asy-Syaikh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Qadir Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani
- Risalah Mubaraqah
Adapun guru-guru beliau adalah sebagai berikut:
- KH. Aini Kandangan
- Al-Alim Al-Fadhil Al-Hafidzh Syaikh Nashrun Thahir
- Al-Alim Syaikh Salman Jalil. Beliau merupakan seorang pakar dalam ilmu falak dan faraidh. Di masa tuanya, Syaikh Salman ini berguru kepada Guru Ijai, sebuah contoh dari seorang ulama besar yang tidak malu untuk berguru kepada muridnya.
- Al-Alim Al-Allamah Syaikh Seman Mulia
- Al-Alim Al-Fadhil Husain Qadri
- Al-Alim Al-Fadhil Syaikh Salim Ma'ruf
- Al-Alim Al-Fadhil Asy-Syaih Sya'rani Arif
- Syaikh Syarwani Abdan Bangil (Guru khusus/guru suluk)
- Al-Alim Al-Allamah Asy-Syaikh Muhammad Amin Kutbi (Guru khusus/guru suluk)
- KH. Tubagus Muhammad Falak Bogor
- Syaikh Yasin bin Isa Padang Makkah
- Syaikh Hasan Masyath
- Syaikh Ismail Al-Yamani
- Syaikh Abdul Qadir Al-Barr
![]() |
| Guru Sekumpul Beserta Kedua Putranya |
Tuan Guru Ijai hidup selama 63 tahun. Pada awal Agustus 2005 beliau
sakit dan sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura selama
10 hari. Pada tanggal 9 Agustus beliau tiba di bandar Udara Syamsuddin
Noor Banjarbaru dengan menggunakan pesawat carter F-28 pukul 20.30
malam. Akhirnya pada tanggal 10 Agustus 2005 hari rabu pagi pukul 05.10,
Tuan Guru Ijai menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya yang
sekaligus merupakan komplek pengajian Ar-Raudhah. Beliau meninggal pada
usia 63 tahun akibat komplikasi gagal ginjal. Pada hari Rabu sore, pukul
16.00 beliau dishalati di mushala Ar-Raudhah.
Masyarakat Kalimantan Selatan khususnya Martapura berduka dengan duka
yang sangat mendalam. Hal ini bisa dilihat dari keadaan pasar Martapura
yang biasanya ramai di pagi hari mendadak menjadi sepi dan semua kios
serta toko ditutup. Begitu pula beberapa kantor dinas, termasuk kantor
bupati Banjar. Seluruh masyarakat berkumpul ke kediaman Guru Ijai untuk
ta'ziyah dan memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.
Beliau wafat dengan meninggalkan dua putra yang dikemudian hari menjadi
penerus beliau, yaitu Syaikh Muhammad Amin Al-Badali dan Syaikh Ahmad
Hafi Badali.
![]() |
| Jenazah Guru Sekumpul akan dimakamkan |
![]() |
| Jamaah Guru sekumpul yang masih istiqamah hingga kini |
![]() |
| Guru Ijai dan Gus Dur |
![]() |
| Guru Ijai dan Presiden Soeharto |
Mainsource : http://www.majeliswalisongo.com/2015/11/biografi-terlengkap-guru-sekumpul-kh-zaini-abdul-ghani.html













